CURHAT Menebar Manfaat

Ceramah Lima Menit: Teknik Bersyukur

Bapak/ ibu yang dirahmati Alloh SWT. di rumah kita pastilah punya foto-foto. apakah itu foto keluarga, foto kita dengan teman-teman, dengan siapa saja untuk bisa mengingat masa-masa yang lalu dengan lebih baik.

 

 

Dengan berjalannya waktu, foto-foto itu menjadi usang...meskipun foto itu telah diberi dibingkai atau pigura mungkin karena bingkainya keropos atau pernah jatuh maka sekarang foto itu disimpan di gudang. Padahal foto itu sangat kita sukai karena foto itu punya nilai tertentu bagi kita......sampai pada satu saat ......kita mengganti bingkainya dengan yang baru .... sehingga kemudian foto itu terlihat tetap indah bahkan bisa jadi lebih indah dari sebelumnya..... jika di pasang/ ditempel akan menjadi salah satu hiasan di ruangan rumah kita lagi.

 

 

Ibu/ bapak sesungguhnya dalam kehidupan.....kita bisa membingkai ulang sebagaimana foto yang usang tadi. Saya punya cerita....tentang karpet merah.....begini ceritanya:

 

 

Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki. Urusan belanja, cucian, makan, kebersihan & kerapihan rumah dapat ditanganinya dengan baik. Rumah tampak selalu rapih, bersih & teratur dan suami serta anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu. Cuma ada satu masalah, ibu yang pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, dan suasana tidak enak akan berlangsung seharian. Padahal, dengan 4 anak laki-laki di rumah, hal ini mudah sekali terjadi dan menyiksanya.

 

 

Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang ahli terapi dan menceritakan masalahnya. Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian, ahli terapi tersenyum & berkata kepada sang ibu: “Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan” Ibu itu kemudian menutup matanya. “Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?”

 

 

Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yang murung berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.

 

 

Ahli terapi itu melanjutkan; “Itu artinya tidak ada seorang pun di rumah ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan tawa ceria mereka.” “Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi”.......Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung menghilang, nafasnya mengandung isak...... Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung cemas membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya.

 

 

“Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu & kotoran di sana, artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah, orang-orang yang ibu cintai ada bersama ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati ibu”..... Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tsb.

 

 

“Sekarang bukalah mata ibu” Ibu itu membuka matanya “Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?” Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Aku tahu maksud anda” ujar sang ibu, “Jika kita melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat dilihat secara positif”. Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang kotor, karena setiap melihat jejak sepatu disana, ia tahu, keluarga yang dikasihinya ada di rumah.

 

 

Kisah di atas adalah kisah nyata. Teknik yang dipakai ini dikenal dalam ilmu psiklogi terapan yang disebut NLP (Neurolinguistic Programming) . ...Dan teknik yang dipakainya di atas disebut Reframing, yaitu bagaimana kita ‘membingkai ulang’ sudut pandang kita sehingga sesuatu yang tadinya negatif dapat menjadi positif, salah satu caranya dengan mengubah sudut pandangnya.

 

 

Dalam Islam Nabi Muhammad tiga belas abad yang lalu telah mencontohkan bagaimana cara mengubah sudut pandang dengan cara Husnudzon Billah...atau mengambiil hikmah dari setiap kejadian......Dan beliaulah orang yang paling bersyukur......Ibu/ bapak menurut Dr. Al-Qarni dalam bukunya Laa Tahzan .....mengatakan bahwa...... bersyukur....adalah....puncaknya iman....

 

 

Bapak/ibu yang dirahmati Alloh SWT, Ada beberapa contoh pengubahan sudut pandang yang bisa dipraktekkan ketika mengahadapi masalah dan katakanlah Saya BERSYUKUR;

 

 

1. Untuk istri yang mengatakan malam ini kita hanya makan mie instan, karena itu artinya ia bersamaku bukan dengan orang lain

 

2. Untuk suami yang hanya duduk malas di sofa menonton TV, karena itu artinya ia berada di rumah dan bukan di bar, kafe, atau di tempat *****.

 

3. Untuk anak-anak yang ribut mengeluh tentang banyak hal, karena itu artinya mereka di rumah dan tidak jadi anak jalanan

 

4. Untuk Tagihan listrik atau telepon yang cukup besar, karena itu artinya saya harus bekerja untuk bayar biaya bulanan

 

5. Untuk sampah dan kotoran bekas pesta yang harus saya bersihkan, karena itu artinya keluarga kami dikelilingi banyak teman

 

6. Untuk pakaian yang mulai kesempitan, karena itu artinya saya cukup makan

 

7. Untuk rasa lelah, capai dan penat di penghujung hari, karena itu artinya saya masih mampu bekerja keras.

 

8. dll....

 

 

Akhirnya saya mengajak kepada diri sendiri dan umumnya kepadab jamaah subuh....untuk selalu bersyukur dalam setiap keadaaan.....agar Alloh SWT. menambah terus nikmatNya kepada kita.Amiin.
Tag : Catatan
0 Komentar untuk "Ceramah Lima Menit: Teknik Bersyukur"
Back To Top