CURHAT Menebar Manfaat

Ceramah Lima Menit: Dahsyatnya Kata-Kata

Dahsyatnya Kata-Kata Suatu saat di tempat kerja ketika berdiskusi dengan seseorang “konsultan ”. Pembicaraan tiba pada masalah “berhubungan dengan orang sulit”, saya katakan kepada beliau, “Dia orangnya begini, begini Pak pokonya dia itu sulit berubah”. Dan apa kata si Bapak itu?. Beliau sambil senyum bertanya, “kalau begitu dimana Tuhanmu Ded?”. Sejenak saya terkejut sekaligus merasa malu. Terkejut karena meskipun beliau itu non-muslim ,beliau telah mengingatkan saya, beliau telah menyadarkan saya. Dan saya merasa malu karena tidak selamanya saya “melibatkan“ Alloh SWT dalam setiap urusan/pekerjaan saya. Sekaligus juga membuat rasa kagum saya kepada beliau yang secara tidak langsung menyiratkan keimanan dan keyakinan pada agamanya. Dan setelahnya...apa yang saya rasakan saya begitu terbuka dan akrab dengan beliau..... Hikmah apa yang bisa dipetik dari pengalaman saya tadi?. ...Kata-kata yang keluar dari seseorang yang punya keyakinan..... itu bisa menggugah dan mengubah orang lain..... Kita bisa bayangkan.... seandainya kata-kata baik itu keluar dari orang-orang kampung kita.....?... tentunya kedamaian dan ketentraman yang akan kita rasakan... Bapak/Ibu yang dirahmati Alloh, pada pagi (ba’da subuh) ini saya mendapat giliran untuk menyampaikan materi yang berkaitkan dengan Iman. Bahasan kali ini adalah dahsyatnya kekuatan kata-kata...... Ibu/Bapak Lisan atau kata-kata seseorang merupakan cerminan/ukuran dari baik dan buruknya kualitas iman. Mari kita simak bersama sabda Nabi Muhammad SAW, “Tidak akan lurus iman hamba sehingga lurusnya hati, dan tidak akan lurus hatinya, sehingga lurus lisannya. Dan seseorang tidak akan masuk surga apa bila tetangganya tidak merasa aman dari kejahatan lisannya” (HR. Ahmad). Pemateri sebelumnya sudah membahas bahwa iman itu bisa naik, bisa turun dan itu salah satunya bisa dilihat dari bagaimana ia berkata-kata/ berbicara. Bapak/Ibu yangdirahmati Alloh,mengenai kekuatan kata-kata ilmuwan dari Jepang, namanya Dr. Masaru Emoto pernah melakukan penelitian....... , beliau menyimpan dua botol air ditempat berbeda katakanlah A dan B. Kemudian botol A di tempel label yang bertulisan “terima kasih” dan botol B bertulisan “bodoh” . Setelah beberapa lama kemudian kedua air diteliti di bawah “mikroskop” dan hasilnya: Air dalam botol A: membentuk kristal hexagonal/ segi enam yang indah, sementara botol B: tidak membentuk kristal yang utuh dan terbelah. Kesimpulan apa yang bisa diambil dari penelitian ini?. Kesimpulannya tidak lain ialah bahwa air bisa merespon kata-kata. Kata-kata “baik” akan direspon baik oleh air dan sebaliknya kata-kata “buruk” akan direspon buruk pula. Dan tahukah Bapak/Ibu, bahwa manusia itu 70% terdiri dari air?. Bapak/Ibu kata-kata adalah ungkapan jiwa, karena itu kata-kata yang kita ungkapkan kepada orang lain/diri kita akan berdampak juga pada jiwa orang lain/diri kita. Itu artinya ketika kata-kata ditujukan kepada orang lain/diri kita maka akan menimbulkan reaksi tubuh, reaksi air yang dalam tubuh orang lain/diri kita tsb. Sudah banyak contoh dalam tayangan media elektronik maupun surat kabar berbagai kasus perkelahian,tawuran antar kampung bahkan pembunuhan yang awalnya disebabkan oleh kata-kata. Saling menghujat dan saling menghina sudah merupakan tayangan biasa. Naudzubillahi min-dzaalik. Dan ini indikator/ukuran dari kualitas dari iman seseorang iman nya atau imannya satu kampung. Ada perumpamaan bahwa diri kita seperti teko, ibu/bapak kalo teko itu isinya air teh maka akan keluar air teh, isinya air kopi maka akan keluar air kopi. Begitu juga kita, jika iman kita menaik maka kata-kata yang kita ucapkan adalah kata-kata yang mengandung optimisme, kata-kata syukur, menginspirasi dan memotivasi. Dan sebaliknya kalo iman turun maka kata-kata yang keluar hinaan, cacian, melecehkan atau juga kata-kata yang menndakan pesimis, keluhan, keputus-asaan. Izinkan saya menegaskan kempali ibu/bapak, bahwa kata-kata yang ditujukan kepada orang lain/diri kita maka akan menimbulkan reaksi tubuh, reaksi air yang dalam tubuh orang lain/diri kita dan juga pada perasaan kita. Jadi dampak kata-kata “buruk” juga akan berdampak pada diri sendiri. Sadarkah kita ketika mengucapkan kalimat/kata-kata negatif, otak kita, saraf kita, darah, kaki dan tangan kita merespon negatif juga. Berikut contoh 10 kalimat Negatif yang harus “ diwaspadai”, al: “saya tidak mungkin melakukannya”....tetapi katakan “manusia adalah ciptaan yang paling sempurna dan karena-Nya saya dikaruniai kemampuan untuk melakukannya” atau “saya akan coba melakukannya mudah-mudahan Alloh SWT memberi kemudahan”. “ah...saya tidak punya bakat”, tetapi katakan “memang bakat itu mendungkung, tetapi banyak koq yang tidak punya bakat juga berhasil” “ah...saya cuma lulusan SD/ orang miskin” lebih baik katakan “karena saya cuma lulusan SD maka untuk sukses saya belajar di universitas kehidupan” “lingkungan saya tidak mendukung” lebih baik katakan “saya berada dilingkungan keluarga yang tidak mendukung tetapi saya akan mencontoh si pulan yang berhasil meskipun kondisi keluarganya tidak mendukung”. “masa lalu saya hancur” “saya tidak punya kesempatan” “saya kurang beruntung” “saya takut sakit hati lagi” “saya khawatir jika hasilnya mengecewakan” <> pikirkan “apa yang dilakukan seandainya hasilnya mengecewakan?” “saya takut salah” Pendek kata, kita berlatih mengubah kalimat yang cenderung negatif menjadi kalimat-kalimat positif yang mengikutkan Alloh dalam susunan kalimatnya agar perasaan kita berubah karenanya. Akhirnya saya mengajak khususnya kepada diri saya pribadi dan umumnya kepada hadirin, marilah kita sama-sama untuk meningkatkan keimanan kita diantaranya melalui latihan memilih dan memilah kata-kata positif untuk kita ucapkan pada kehidupan sehari-hari kita agar bisa menikmati hidup dengan sebaik-baiknya. Dan selamat di Dunia dan Akhirat. Amiin. Dari buku yang pernah saya baca yang judulnya “Laa-Tahzan” karangan Al-Qarni, mengatakan, “Keridhaan akan membuahkan rasa syukur yang merupakan level keimanan tertinggi, bahkan (menurut beliau) merupakan hakikat dari keimanan itu sendiri. Dalam Tahapan Iman, rasa syukur itu adalah puncaknya. Orang yang tidak Ridho terhadap Pemberian Alloh, keputusan-Nya, penciptaan-Nya, pengaturan-Nya terhadap yang diambil dan yang diberikan-Nya, tidak akan bisa bersyukur kepada Alloh. (Dan akhirnya beliau mengatakan) orang yang bersyukur adalah yang paling menikmati hidup”. Dan sumber-sumber lain.
0 Komentar untuk "Ceramah Lima Menit: Dahsyatnya Kata-Kata"
Back To Top