CURHAT Menebar Manfaat

Ceramah Lima Menit: Bagaimana Seorang Muslim Berfikir


Alloh SWT. Telah berfirman dalam Surah Al-Mulk, 67:2:

"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,"
 (QS. Al Mulk, 67: 2)

Menurut Al-Fudhail bin Iyadh, tentang firman Allah: Supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya,

beliau berkata: Maksudnya, dia ikhlas dan benar dalam melakukannya. Sebab amal yang dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar maka tidak akan diterima. Dan jika dia benar, tetapi tidak ikhlas maka amalnya juga tidak diterima. Adapun amal yang ikhlas adalah amal yang dilakukan karena Allah, sedang amal yang benar adalah bila dia sesuai dengan Sunnah Rasulullah.

Jika diartikan secara umum, bahwa Kriteria kebaikan adalah ;
 -lurusnya pikiran,
 -jernihnya perasaan dan,
 -tepatnya tindakan.

Tidak mungkin orang menemukan kebaikan jika pikirannya belum lurus, perasaannya belum jernih dan tindakannya belum tepat.

Pikiran yang lurus adalah pikiran yang menuntun kita untuk yakin bahwa segala sesuatu itu terjadi pasti seizin Allah. Berperasaan jernih berarti yakin bahwa kejadian apa pun selalu membawa manfaat untuk kita.
Tepatnya tindakan, berarti apa pun yang kita lakukan selalu memberi manfaat untuk diri dan orang lain. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya manusia.

Bapak/ibu / ikhwan/akhwat yang dirahmati Alloh, lintasan  pikiran (menurut ibnu al jauziah dalam sebuah bukunya menyebut sbg al khothorot ) adalah awal dari perbuatan atau amal, yang baik ataupun yang buruk. Dari sinilah lahirnya keinginan ( untuk melakukan sesuatu ) yang akhirnya berubah manjadi tekad yang bulat.

Maka barang siapa yang mampu mengendalikan pikiran pikiran yang melintas  di benaknya, niscaya dia akan mampu mengendalikan diri dan menundukkan hawa nafsunya. Dan orang yang tidak bisa mengendalikan pikiran pikirannya, maka hawa nafsunyalah yang berbalik menguasainya. Dan barang siapa yang menganggap remeh pikiran pikiran yang melintas di benaknya, maka tanpa dia inginkan ia akan terseret pada kebinasaan.

Hati itu laksana papan yang kosong, dan pikiran pikiran itu bagaikan tulisan yang diukir di atasnya. Maka, bagaimana bisa dikatakan pantas bagi sesorang yang berakal bila papannya hanya berisi dusta, tipu daya, angan angan dan fatamorgana yang tidak ada realitanya ?,

hikmah, ilmu dan petunjuk macam apa yang diharapkan dari tulisan tulisan itu ?,
apabila ingin melukiskan hikmah, ilmu dan petunjuk di papan hatinya, maka tak ubahnya seperti penulisan ilmu yang bermanfaat di sebuah tempat yang sudah penuh dengan tulisan lain yang tidak ada manfaatnya.

 Bila hati tidak kosong dari pikiran pikiran kotor, maka pikiran pikiran positif yang bermanfaat tidak akan dapat menetap di dalamnya, karena dia memang tidak dapat menempati kecuali tempat yang kosong, seperti yang diungkapkan oleh seorang penyair :

Aku telah didatangi oleh hawa nafsu sebelum aku kenal dengan hawa nafsu itu sendiri, maka ia temukan hati yang kosong, oleh karena itu ia itu ia dapat menguasaiku"

Kemudian, syetan akan membisikkan kepada manusia bahwa kesempurnaan itu dapat mereka capai dengan cara melepaskan diri dan mengosongkan hati.

Sungguh amat jauh ungkapan tersebut dari kebenenaran, karena kesempurnaan itu hanya dapat diperoleh bila hati itu penuh terisi dengan keinginan dan pikiran yang baik, serta usaha untuk merealisasikannya. Maka, manusia yang paling sempurna adalah mereka yang paling banyak memiliki pikiran dan keinginan untuk tunduk kepada perintah Allah, mencari keridloanNya. Sebagaimana manusia yang paling hina adalah mereka yang paling banyak memiliki keinginan dan pikiran untuk memenuhi hawa nafsunya dimana saja dia berada.

Manusia adalah makhluk yang dilengkapi Allah sarana berpikir. Namun sayang, kebanyakan mereka tidak menggunakan sarana yang teramat penting ini sebagaimana mestinya. Bahkan pada kenyataannya sebagian manusia hampir tidak pernah berpikir.

Bapak/ibu/ikhwan/akhwat yang dirhamati Alloh, Ada banyak sebab yang menghalangi manusia untuk berpikir. Satu, atau beberapa, atau semua sebab ini dapat mencegah seseorang untuk berpikir dan memahami kebenaran. Oleh karena itu, perlu kiranya setiap orang mencari faktor-faktor yang menyebabkan mereka berada dalam kondisi yang kurang baik tersebut, dan berusaha melepaskan diri darinya. Jika tidak dilakukan, ia tidak akan mampu mengetahui realitas yang sebenarnya dari kehidupan dunia yang pada akhirnya menghantarkannya kepada kerugian besar di akhirat.
Faktor-faktor menghalangi manusia untuk berpikir.diantaranya adalah:

-malas

Cara pemecahan masalah yang dipakai yang menunjukkan kemalasan dalam berpikir.,....... Sebagai contoh: dalam menangani masalah sampah, seorang manajer sebuah gedung menerapkan metode yang sama sebagaimana yang telah dipakai oleh manajer sebelumnya. Atau seorang walikota berusaha mencari jalan keluar tentang masalah jalan raya dengan meniru cara yang digunakan oleh walikota-walikota sebelumnya. Dalam banyak hal, ia tidak dapat mencari pemecahan yang baru dikarenakan tidak mau berpikir. Sudah pasti, contoh-contoh di atas dapat berakibat fatal bagi kehidupan manusia jika tidak ditangani secara benar. Padahal masih banyak masalah yang lebih penting dari itu semua.


-kehidupan sehari-hari yang melenakan

Kebanyakan manusia menghabiskan keseluruhan hidup mereka dalam "ketergesa-gesaan". Ketika mencapai umur tertentu, mereka harus bekerja dan menanggung hidup diri mereka dan keluarga mereka. Mereka menganggap hal ini sebagai sebuah "perjuangan hidup". Dan, karena harus bekerja keras, jungkir balik dalam pekerjaan, mereka mengatakan tidak mempunyai waktu lagi untuk hal-hal yang lain, termasuk berpikir. Akhirnya mereka pun terbawa larut oleh arus ke arah mana saja kehidupan mereka ini membawa mereka. Dengan demikian, mereka menjadi tidak peka lagi dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar mereka.



-melihat kejadian sebagai hal yang "biasa-biasa saja"

Ketika melihat beberapa hal yang baru untuk pertama kalinya, manusia mungkin menemukan berbagai hal yang luar biasa yang mendorong mereka berkeinginan untuk mengetahui lebih jauh apa yang sedang mereka lihat tersebut. Namun setelah sekian lama, mereka mulai terbiasa dengan hal-hal ini dan tidak lagi merasa takjub. Terutama sebuah benda ataupun kejadian yang mereka temui setiap hari sudah menjadi sesuatu yang "biasa" saja bagi mereka.

Contohnya, seseorang yang tidak berpikir mungkin takjub ketika pertama kali melihat sebuah taman yang indah, tetapi kemudian taman tersebut menjadi sebuah tempat yang biasa-biasa saja baginya. Kekagumannya atas keindahan tersebut telah sirna. Sebagian orang sama sekali tidak menyadari nikmat tersebut dikarenakan tidak berpikir. Mereka menganggap segala kenikmatan yang ada sebagai hal yang "biasa" atau "lumrah" dan sebagai "sesuatu yang memang seharusnya sudah demikian". Inilah yang menjadikan mereka tidak dapat merasakan kenikmatan dari keindahan taman tersebut.

Apa akibatnya bagi orang yang tidak berfikir:
Jawabnya : orang itu akan menjadi LALAI
sebagai contohnya ketika orang mulai terlena oleh kehidupan sehari2 akan lalai sehingga sering menjadikan sesuatu sebagai tujuan padahal seharusnya sebagai sarana:
ketika uang dijadikan tujuan maka mencari segala cara untuk mendapatkannya  termasuk dengan cara haram.
ketika sekolah menjadi tujuan maka segala cara ditempuh untuk bisa disekolah favorit termsuk menyontek ketika ujian.

Dan apa akibtnya  bagi orang yang mau berfikir:
Jawabnya : orang itu akan menjadi faham atau mengerti.

Contohnya: Ketika menyaksikan segala peristiwa yang ditemuinya sepanjang hari, orang beriman selalu berpikir tentang tanda-tanda kebesaran Allah dan berusaha untuk memahami makna-makna yang terkandung dalam peristiwa-peristiwa tersebut. Ia menanggapi setiap kebaikan ataupun malapetaka sebagai sesuatu yang memiliki kebaikan sebagaimana dikehendaki Allah. Di mana saja ia berada, di sekolah, di tempat kerja ataupun di pasar, dan dengan berprasangka dan berpikir bahwa Allahlah yang menciptakan setiap sesuatu, ia selalu berusaha memahami keindahan-keindahan dan makna tersembunyi di balik peristiwa-peristiwa yang diciptakan-Nya untuk kemudian menjalani hidup dengan mematuhi ayat-ayat Allah.

Sikap orang mukmin ini digambarkan dalam Al-Qur'an: "Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas." (QS. An-Nuur, 24: 37-38).

Orang yang berfikir menjadi faham bahwa segala sesuatu  yang Alloh ciptakan tidak sia-sia sebagai mana  yang digambarkan Al Quran sbb:

"(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. "(QS. Aali ÔImraan, 3:191).

Akhirnya saya mengajak khususnya kepada saya sendiri dan umumnya kepada jamaah sekalian untuk menggunakan fikiran kita sebagai mana mestinya sesuai tuntunan Alloh SWT. agar memberi keselamatan di dunia sampai akhirat kelak. Amiin. YRA.


Tag : Catatan
0 Komentar untuk "Ceramah Lima Menit: Bagaimana Seorang Muslim Berfikir"
Back To Top