CURHAT Menebar Manfaat

Ceramah Lima Menit: Dahsyatnya Memaafkan


Bapak/ Ibu yang dirahmati Alloh SWT. sudah kita ketahui bersama bahwa Alloh mewajibkan ibadah shaum kepada orang beriman tujuannya adalah agar menjadi orang-orang yang bertaqwa, seperti dalam QS.2:183, sbb:
 

Siapa orang-orang bertaqwa itu? . Bapak/Ibu yang dirahmati Alloh, banyak ayat dalam Al-Quran yang menyebutkan ciri-ciri orang-orang bertaqwa itu, yang salah satunya terdapat dalam QS 3:133-134 sbb:

 
Pada kali ini marilah kita sama-sama merenungkan keindahan dan keagungan makna yang terkandung dalam firman Alloh di atas. Alloh SWT merangkaikan kata menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang. Berikut ini adalah penjelasan yang ditulis oleh Dr. Isnawati Rais, MA.:
Menahan marah
Perilaku orang yang bertakwa adalah mampu menahan marah dengan tidak melampiaskan kemarahan walaupun sebenarnya ia mampu melakukannya. Kata al-kazhimiin berarti penuh dan menutupnya dengan rapat, seperti wadah yang penuh dengan air, lalu ditutup rapat agar tidak tumpah. Ini mengisyaratkan bahwa perasaan marah, sakit hati, dan keinginan untuk menuntut balas masih ada, tapi perasaan itu tidak dituruti melainkan ditahan dan ditutup rapat agar tidak keluar perkataan dan tindakan yang tidak baik. (Quraisy Shihab, Tafsir al-Misbah, II, hal. 207).

Memaafkan
Memaafkan berarti menghapuskan. Jadi seseorang baru dikatakan memaafkan orang lain apabila ia menghapuskan kesalahan orang lain itu, kemudian tidak menghukumnya sekalipun ia mampu melakukannya. Ini adalah perjuangan untuk pengendalian diri yang lebih tinggi dari menahan marah. Karena menahan marah hanya upaya menahan sesuatu yang tersimpan dalam diri, sedangkan memaafkan, menuntut orang untuk menghapus bekas luka hati akibat perbuatan orang. Ini tidak mudah, oleh karena itu pantaslah dianggap perilaku orang bertakwa.
Saya mengaris-bawahi bahwa rasa marah/ sakit hati yang tertahan baru akan terhapus jika disertai dengan memaafkan.Subhanalloh sungguh indah luarbiasa Alloh merangkai dua kata ini tidak dengan sembarangan tetapi punya maksud dan makna yang sungguh Agung. Dan ini dipakai di dunia kesehatan oleh para terapis untuk upaya membantu pasien-pasiennya. Salah- satunya adalah yang diungkapkan Adi.W Gunawan sbb:
Ada sangat banyak teknik terapi. Namun dari sekian banyak teknik, Forgiveness Therapy, adalah salah satu yang paling dahsyat efeknya. Terapi yang dilakukan tanpa diakhiri dengan memaafkan adalah terapi yang tidak tuntas.”
Bapak/Ibu yang dirahmati Alloh SWT, pada kesempatan yang singkat ini ada 3 poin yang harus ditekankan ialah bahwa:
1.     Memaafkan itu untuk diri sendiri

Memaafkan kesalahan orang lain itu bukan untuk orang yang menyakiti kita tetapi untuk diri kita sendiri. Sakit hati itu yang luka adalah hati kita dan memaafkan adalah menyembuhkan luka hati kita sendiri.

2.     Memaafkan harus pada level pikiran bawah sadar.
Sebagaimana pengetahuan yang berkembang tentang pikiran manusia itu terbagi dua, (1) pikiran sadar (2) pikiran bawah sadar. Apabila memaafkan dilakukan pada level pikiran sadar, maka tidak akan bisa efektif. Memaafkan harus dilakukan pada level pikiran bawah sadar. Mengapa perlu melakukan pada level pikiran bawah sadar?. Jawabannya karena emosi dan memori letaknya di pikiran bawah sadar. Kita perlu masuk lokasi yang tepat, ke pikiran bawah sadar, untuk melakukan forgiveness. Dengan cara ini baru bisa efektif, efisien, dan permanen hasilnya.
Contoh ilustrasi: seseorang yang menurut pikirannya bahwa dia sudah memaafkan orang yang menyakitinya, tetapi pada kenyataannya saat dia bertemu dengan orang itu dia merasa tidak nyaman, atau ada perasaan lain yang mengganjal.


3.      Lakukan juga memaafkan diri sendiri.

Bapak/ibu yang dirahmati Alloh SWT. kita harus bersedia menerima segala kesalahan yang pernah kita lakukan, memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk belajar dari kesalahan itu, mengijinkan diri kita untuk memulai lembaran hidup baru, bersedia menghargai dan mencintai diri kita apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, maka pada saat itu kita telah sembuh.

Apa ciri-ciri  bila rasa marah atau sakit hati itu sudah sembuh?

Buya Nur menyebutkan bila kita sudah memaafkan ada dua ciri utama, yaitu:
1. Perasaan lega / plong / ringan, karena memang bebannya telah lepas.
2. Tak ada hambatan psikologis untuk berinteraksi kembali.
Jadi, bila 2 ciri ini belum ada, itu tanda kita belum memaafkan
Akhirnya mari kita merenungkan satu ayat lagi tentang memaafkan, yaitu pada QS Anuur:22, sbb:
 

Subhanalloh, Sungguh indah Alloh merangkai kata memaafkan dan berlapang dada yang menunjukkan bahwa memaafkan itu harus menjadikan  dada menjadi lapang, lega atau plong seperti pada 2 ciri utama di atas.
Dan yang terakhir hendaklah dalam memaafkan itu disertai motivasi atau niat yang kuat untuk mencari ampunan Alloh SWT.
Marilah kita sama sama berlatih untuk menjadi pribadi yang pemaaf sehingga kita selalu dalam ampunan atau magfiroh Alloh SWT. Amiin.
Wallohu ‘Alam.
Tag : Catatan, Curhat
0 Komentar untuk "Ceramah Lima Menit: Dahsyatnya Memaafkan"
Back To Top