CURHAT Menebar Manfaat

Ceramah Lima Menit: Dahsyatnya Ramadhan

 
Setelah mendengar dari para penceramah beberapa hari ini yang mengukapkan tentang hikmah, keagungan dan keutamaan bulan Ramadhan bagi saya pribadi masih belum cukup bisa menggambarkan kedahsyatannya. Kenapa? Karena selalu ada saja yang bisa digali dan diungk ap seperti sebuah sumur, semakin digali semakin banyak air keluar tanpa ada habisnya.
Ramadhan bisa dilihat dari sudut pandang berbeda tetapi kesemuanya menampakkan keagungan dan kemuliannya, Contoh: -dari segi Kesehatan, Kependidikan, Sosial Kemasyarakatan, Ekonomi, Manajemen, dan yang pasti Spiritual, dll
Pada kali ini izinkan saya membahas Dahsyatnya Ramadhan salah satunya karena ada    dahsyatnya Do’a:
Ramadhan adalah bulannya ahlul munajat, bulan berpesta bagi hamba-hamba Allah yang tak pernah bosan dan letih memanjatkan do’a kepada-Nya.  Mari kita sama-sama merenungkan satu ayat mulia berikut ini, yang urutannya dalam mushaf al-Qur-aan berada di antara ayat-ayat yang berbicara tentang Ramadhan (ayat 183  s.d. ayat 187, QS. al-Baqarah):
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْ
مِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (wahai Muhammad) tentang Aku, maka (katakanlah bahwa) sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan hamba yang berdo’a jika ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala) perintah-Ku, dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” [QS. Al-Baqarah: 186]
Keberadaan ayat ini di tengah-tengah ayat tentang Ramadhan, mengandung hikmah yang begitu mendalam. Al-Hafizh Ibnu Katsir mengupas hikmah tersebut dalam kitab tafsirnya yang terkenal, beliau mengatakan, yang artinya :
 “Firman Allah ta’ala pada ayat ini perihal motivasi berdo’a yang disebutkan di sela-sela ayat tentang hukum-hukum seputar puasa (Ramadhan), menyiratkan petunjuk untuk bersungguh-sungguh dalam berdo’a saat menyempurnakan puasa, bahkan saat berbuka...” [Tafsir Ibnu Katsir: I/hal. 471, cet. Daar Ibnu Hazm 1419-H]
Sejarah emas Islam mencatat bahwasanya kemenangan terbesar umat ini pada Perang Badr terjadi di bulan Ramadhan, tepatnya 2 tahun setelah hijrah. Dan itu tentu saja tidak lepas dari sebab munajat dan do’a kepada Rabbul ‘Aalamiin. Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu mengisahkan:
“Sungguh aku melihat kami pada malam (perang) Badr, di mana tidak ada satu pun di antara kami melainkan ia tertidur, kecuali Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam, beliau sholat menghadap pohon dan berdo’a (kepada Allah) sampai subuh...” [Hadist Shahih, riwayat Ahmad no. 1161]
Dan kita tahu bahwa keeseokan harinya, Allah menjawab do’a tersebut dengan menurunkan ribuan bala tentara Malaikat untuk menolong kaum muslimin yang berjumlah sedikit dan lemah waktu itu. Ini adalah salah satu bukti, betapa dahsyatnya do’a di bulan yang suci ini. Mereka yang dekat dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam, sangat memahami betapa Ramadhan adalah waktu yang istimewa untuk memanjatkan do’a tanpa rasa takut akan ditolak. Lihatlah bagaimana ‘Aisyah radhiallahu’anha meminta do’a khusus dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam untuk dibaca saat Lailatul Qadr, beliau radhiallahu’anha berkata:
Wahai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam, jikalau aku mendapati satu malam (Ramadhan) ternyata adalah Lailatul Qadr, maka do’a apa yang aku ucapkan? Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam menjawab; ucapkanlah:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Pemurah. Engkau mencintai maaf, maka maafkanlah aku.” [Sunan Ibnu Majah no. 3850, dishahihkan al-Albani]
FAKTOR PENDUKUNG KEKUATAN DO’A
1.     Yakin Akan Terkabulnya Do’a
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Berdo’alah kepada Allah, disertai keyakinan kalian akan ijabah (terkabulnya do’a), dan ketahuilah oleh kalian, bahwa Allah tidak menerima do’a dari hati yang lupa lagi lalai” [Hadits Hasan, lihat ash-Shahihah: 596]
Do’a yang dipanjatkan seorang hamba tidak akan memberikan pengaruh apa-apa baginya, selama hatinya hampa dari mengingat Allah. Lalai dari Allah (sebagai Dzat yang menjadi tujuan do’anya), justru akan membatalkan dan melemahkan kekuatan do’anya.
2.     Menjaga Kehalalan
Darah dan daging yang tumbuh dari makanan yang haram bisa menjadi penghalang utama terkabulnya do’a seorang hamba, sekalipun hamba tersebut telah mewujudkan faktor-faktor terbesar terkabulnya do’a. Disebutkan dalam hadits yang shahih:
“(Bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam) berkisah tentang seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan berdebu, dia mengangkat tangannya tinggi ke langit seraya berseru, Yaa Rabb.... Ya Rabb....(menandakan hajatnya yang sangat mendesak), namun (ternyata) makanan yang dikonsumsinya haram, pakaiannya bersumber dari yang haram, dan tumbuh dari bekal yang haram. Maka bagaimana mungkin do’anya akan dikabulkan?” [Shahih Muslim no. 1015]
Para ulama menjelaskan bahwa laki-laki yang dikisahkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam dalam hadits di atas telah mengumpulkan beberapa faktor terbesar yang bisa menyebabkan terkabulnya do’a, di antaranya adalah; kondisi musafir, ditambah lagi kebutuhan genting yang mendesak, serta sifat ketundukan dan kehinaan dalam meminta kepada Allah. Namun semua itu ternyata tidak berarti apa-apa di hadapan Allah, karena sang hamba bergelut dengan keharaman dan jauh dari yang halal.
3.     Sikap Memelas Kepada Allah
Hendaknya seorang hamba menampakkan rasah butuhnya yang mendesak kepada Allah tatkala berdo’a. Hendaknya ia memperlihatkan keputusasaannya dari segenap kekuatan dan penolong kecuali dari Allah semata.
Di dalam Kitab az-Zuhd (hadits no. 7) karya Imam Ahmad rahimahullaah, disebutkan bahwasanya seorang ulama salaf mengatakan:
“Aku tidak menemukan gambaran yang lebih pantas bagi seorang mukmin (ketika berdo’a) daripada gambaran (rasa takut dan harap) seorang laki-laki di atas sepotong kayu di tengah lautan, lalu dia menyeru; Yaa Rabb...Yaa Rabb..., agar sudi kiranya Allah menyelamatkannya.”
4.     Jangan Tergesa-gesa dan Putus Asa
Janganlah seorang hamba berprasangka buruk kepada Allah dengan menganggap do’anya lambat terkabul atau tidak dijawab sama sekali, sehingga ia menyerah dan berputus asa dari do’a.
Dalam Shahih Muslim (no. 2735) disebutkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda (yang artinya):
“Senantiasa akan dikabulkan do’a seorang hamba selama ia tidak berdo’a dengan do’a yang mengandung dosa atau pemutusan silaturrahim, dan juga selama ia tidak tergesa-gesa. Ditanyakan kepada beliau: Wahai Rasulullah r, apa yang dimaksud tergesa-gesa? Beliau menjawab: Jika seseorang berkata; ‘Aku telah berdo’a dan berdo’a, namun aku belum melihat do’a-ku dikabulkan, maka ia pun berputus asa lantas meninggalkan do’a”
5.     Mencari Waktu Ijabah
Di antara waktu-waktu terkabulnya do’a berdasarkan dalil yang shahih adalah; sepertiga malam yang akhir (kira-kira tengah malam sampai menjelang shubuh), waktu antara adzan dan iqomah, pada saat turun hujan, saat sujud dalam shalat, dan tentu saja pada saat berpuasa di bulan Ramadhan, sebagaimana disebutkan dalam hadits:
“Ada tiga orang yang do’anya tidak akan ditolak; seseorang yang berpuasa hingga ia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’anya orang yang terzhalimi.” [Hadits Hasan riwayat at-Tirmidzi, lih. Al-Kalimut Thoyyib no. 163]

***
Ringkasan  dan modifikasi artikel yang ditulis: Ust. Fakhruddin Abdurrahman, Lc.
Tag : Catatan, Curhat
0 Komentar untuk "Ceramah Lima Menit: Dahsyatnya Ramadhan"
Back To Top