CURHAT Menebar Manfaat

Klien Pertama : Terapi Berhenti Merokok (1)

Sekarang saya akan menceritakan tentang pengalaman pertama melakukan hypnosis bersama teman saya: Awalnya saya mengobrol bersama teman-teman kerja mengenai phobia atau ketakutan yang berlebihan serta penyembuhannya melalui hypnotherapy. Pembicaraan terus berlangsung seputar manfaat lainnya dari hypnotherapy bagi kita seperti meningkatkan pe-de (percaya diri), menghilangkan kebiasaan buruk, dll. Akhirnya pembicaraan sampai pada keinginan seorang teman saya, AH namanya untuk berhenti merokok. Kelihatannya dia sangat antusias ingin berhenti merokok dan menawarkan dirinya untuk melakukan terapi bersama saya. Dan kemudian disepakati untuk melakukan ”latihan” pada keesokan harinya pada waktu jam istirahat siang.

Sebagai orang yang baru pertama kali akan melakukan hypnosis, pada malam harinya saya mulai merancang tahapan terapi yang saya lakukan :

Pertama, menentukan apakah perlu atau tidak melakukan uji sugestibilitas. Saya agak ragu untuk melakukan uji sugestibilitas, mengingat waktu yang pendek. Saya hanya punya waktu sekira 30 menit. Saya pikir tidak akan punya cukup waktu untuk melakukan uji sugestibilitas sekaligus dengan sesi terapi. Maka saya putuskan untuk tidak melakukan uji sugestibilitas.

Kedua, saya merencanakan teknik apa yang ingin saya pakai dalam melakukan induksi. Kembali lagi pada soal waktu yang menjadi pertimbangan saya. Saya tidak boleh gagal dalam melakukan induksi. Jika gagal, tidak ada tambahan waktu untuk mencoba teknik induksi lainnya. Berdasarkan latihan self-hypnosis yang biasa saya lakukan, teknik Mental Confusion adalah teknik yang paling berhasil. Meskipun teknik ini tidak akan selalu cocok untuk orang lain, tetapi kali ini saya akan coba menggunakan teknik ini untuk teman saya.

Ketiga, saya harus memikirkan tentang teknik terapi. Menurut buku yang ditulis Pak Adi W. Gunawan yang berjudul ”Hypnotherapy ; The art of Subconscious Restructuring”, ada enam belas macam teknik yang bisa dipakai, misalnya: (1) sugesti post hypnotis dan imaginasi, (2) menemukan akar masalah, (3) release / memaafkan, (4) pemahaman baru/ re-learning, (5) ideomotor response, (6) hypnotic regresssion, dll. Jujur saja saya belum menguasai teknik-teknik ini, tetapi akan saya coba memakai cara yang pertama, yaitu teknik sugesti post hipnotis dan imajinasi. Menurut pak Adi juga dalam buku tersebut, teknik ini hanya cocok untuk klien yang memiliki motivasi yang kuat untuk berubah, baik pada level pikiran sadar dan bawah sadar. Saya menilai, teman saya, AH memiliki motivasi yang kuat untuk berhenti merokok, saya pikir teknik ini cocok untuk dia. Kemudian saya muncul ide, bagaimana kalau klien diminta untuk membayangkan berada bersama teman-temannya dan dia mengumumkan kepada mereka bahwa dia sudah berhenti merokok secara total. Selanjutnya klien disuruh membayangkan teman-temannya menyalami dia, memberi ucapan selamat atas keberhasilannya. Saya pun coba menuliskan script untuk saya baca nanti.
Esok harinya,..... tibalah waktu bagi saya untuk melakukan terapi seperti yang telah disepakati. AH masuk ke ”ruang terapi”. Saya persilakan AH untuk duduk. Kemudian saya mulai sesi terapi sebagai berikut:

Pre-induction Interview & Benefit Approach
Dedi : ”AH, saya akan mulai terapi. Meskipun AH sebelumnya sudah bilang bahwa AH ingin berhenti merokok dengan beberapa alasan. Tidak ada salahnya coba AH sebutkan lagi keuntungan bila AH sembuh dan berhenti merokok!”
AH : “Keuntungannya pak, saya jadi sehat, dan saya juga bisa berhemat”
Dedi : ”Baiklah, ada yang perlu saya jelaskan bahwa jika nanti AH berhasil terhypnosis, itu bukan karena saya, tetapi karena AH sendiri yang ingin dihypnosis. Sebenarnya semua hypnosis adalah self-hypnosis. Kemudian jika nanti saya bilang tidur yang dalam, itu bukan tidur seperti biasa orang tidur, tetapi itu adalah kondisi relaksasi atau istirahat yang dalam, mengerti?”
AH : ”Mengerti, pak”
Dedi : ”Kalau begitu, sekarang silakan AH duduk yang rileks, kedua kaki rileks, telapak kaki menempel di lantai. Letakkan tangan kiri di atas paha kiri dan tangan kanan di atas paha kanan.”

Induksi dengan teknik Mental Confusion
Dedi : ” Saya akan menghitung turun mulai dari 100, untuk setiap hitungan genap saya minta AH menutup mata, dan setiap hitungan ganjil AH membuka mata, mengerti ?”
AH : ” Mengerti, pak”
Dedi : ”100.... tutup mata AH.... tarik napas yang dalam dan rileks..... AH mungkin menyadari bahwa pikiran AH.... dapat berpikir jauh lebih cepat dari apa yang saya katakan.... dan itu tidak jadi masalah.... 99.... buka mata AH.... tarik napas yang dalam dan rileks.... 98.... tutup mata....tarik napas yang dalam..... bAH sekali..... niatkan dalam hati untuk masuk lebih dalam...., lebih rileks....97.... AH mungkin lupa apakah harus buka atau tutup mata......itu tidak jadi masalah.....96..... tutup mata...... bayangkan semua ketegangan AH keluar bersama hembusan napas AH..... 95..... AH merasa sulit untuk membuka mata......”.

( saya melihat AH, masih bisa menutup dan membuka mata sesuai perintah saya)

Dedi : ’`94..... mudah untuk lupa ..... 93.... sulit untuk mengingat apakah harus buka atau tutup mata, atau apakah ganjil atau genap..... begitu AH lupa untuk ingat atau ingat untuk lupa ....mata AH akan terkunci rapat..... dan AH dapat masuk lebih dalam.... lebih rileks..... semakin masuk lebih dalam ..... 92.... mata AH sangat berat.....91..... AH hanya mendengar suara saya... dan sangat mudah merespon suara saya saat saya mengucapkan ..... 90......89.... mata AH semakin berat dan trekunci rapat sekarang.....”

(mata AH, mulai berkedip cepat atau REM (rapid eyes movement)

Dedi: ”87, ..85.., 83 ..... lebih dalam dan lebih dalam lagi..... mudah untuk lupa.... sulit untuk mengingat..... 82.... 80.... apakah harus buka atau tutup mata....... atau apakah tertutup atau terbuka... atau apakah ganjil atau genap.... 78, 76, 74... angka- angka dapat berlalu dengan sangat cepat..... dan AH ingin masuk lebih dalam saat mata AH tertutup. ........70....68.... AH sekarang masuk ke kondisi hypnosis yang dalam...........65..63...61.... dan setiap AH lupa untuk mengingat dan mengingat untuk lupa.... AH masuk lebih dalam... merasa sangat nyaman... dan semakin nyaman....50...40..mata tertutup dan masuk lebih dalam......35, 33, ..31......”

(Badan AH mulai bergerak ke kanan, dan kemudian posisi badan AH miring dengan mata tetap tertutup)

Dan saya lanjutkan dengan
Deepening dengan menghitung turun :

Dedi : ”Saya akan menghitung turun dari 10 ke 1, untuk setiap hitungan turun AH menjadi dua kali lebih rileks dari hitungan sebelumnya, semakin turun AH semakin rileks. Setiap hitungan turun membuat AH dua kali lebih rileks dari hitungan sebelumnya ..... 10....9.... dua lebih rileks dari sebelumnya.... 8.... bagus sekali.... dua kali lebih rileks......7.... dua kali lebih rileks dari sebelumnya....6...5....4... bagus sekali dua kali lebih rileks dari sebelumnya.....3....2...dua kali lebih rileks.... dan 1.... bagus sekali AH telah tertidur dengan sangat lelap......”

(AH tetap dalam posisi miring...) Kemudian saya melakukan deepening lagi sambil memeriksa tingkat kedalaman trance dengan mengangkat tangan ke pangkuan :

Dedi : ” Saya akan mengangkat tangan kiri AH... rileks saja... AH tidak usah membantu saya..... saat saya melepas tangan kiri AH dan tangan kiri AH menyentuh paha kiri AH... saat itu AH masuk sepuluh kali lebih dalam dari kondisi sekarang.....
Saat tangan kiri AH menyentuh paha kiri AH, saat itu AH langsung masuk sepuluh kali lebih dalam dari kondisi sekarang.....
Saya akan melepas tangan kiri AH...saat tangan kiri AH menyentuh paha kiri AH, saat itu AH masuk sepuluh kali lebih dalam dari kondisi sekarang....
(sambil melepas tangan kiri AH)”

(tangan AH lemas sekali)...dia sepertinya sudah dalam keadaan deep trance. Kemudian saya lanjutkan dengan
Dept Level Test dengan ideo motor response :

Dedi : ” Kalau, AH masih bisa mendengar suara saya tolong gerakan telunjuk tangan kiri AH...(sambil menyentuh telunjuk kiri AH)”

(AH tidak terlalu merespon saya , gerakannya sangat lemah. Saya lanjutkan dengan post hipnotic sugestion & Imagery :

Dedi : “Bayangkan AH sekarang berada bersama teman-teman AH. Kemudian AH dengan bangga mengumumkan kepada mereka bahwa AH sudah berhenti merokok secara total. Teman-teman AH menyalami AH memberi selamat. Ambil waktu yang cukup untuk merasakan keberhasilan AH.....
Saya akan menghitung dari 1 sampai 5. Semakin naik hitungannya, perasaan bangga dan senang AH semakin kuat.... Satu...... dua..... tiga..... rasakan perasaan ini semakin kuat...... empat...semakin kuat...... dan lima... perasan ini, kini sangat kuat.....”


Dedi : ”Oke, AH, kalau sekarang ada orang yang menawarkan rokok pada AH, apakah masih mau?”

AH : ”tidak...” (AH menggelengkan kepala)

Dedi : ”Baiklah”
”Berhenti merokok berarti mempunyai kekuatan batin untuk berpaling dari rokok.
Berhenti merokok berarti hidup semakin sehat
Berhenti merokok berarti berhemat
Berhenti merokok berarti mengenyahkan segala dambaan, godaan dan keraguan
Berhenti merokok berarti mengasihi diri sendiri. ”


Kemudian saya membangunkan AH,
Awakening :

Dedi : ” Saya sekarang akan membimbing AH untuk naik ke kesadaran normal dengan menghitung perlahan mulai 1 hingga 10.... setiap hitungan naik... kesadaran AH juga naik.... saya mulai... 1....2....kesadaran AH mulai naik ... bagus sekali .... 3 .....kesadaran AH semakin naik.... 4. bagus sekali.... AH semakin sadar dengan keadaan diri sendiri.....5.... AH semakin sadar dengan keadaan sekeliling AH....6.... gerakan ujung jari tangan AH..... 7..... AH merasakan sangat segar.... 7... gerakan ujung jari kaki AH.... 8.... AH semakin segar.... sangat sehat sangat nyaman.... 9....buka mata anda..... 10.... bangun dengan segar dalam kesehatan sempurna.”

Setelah AH bangun saya mengajak AH untuk ngobrol tetang bagaimana perasaannya saat melalui sesi terapi :

Dedi : ” Bagaimana perasan AH selama terapi berlangsung ?”

AH : ” Bapak kok bisa ya!.. mula-mula saya bisa mengikuti instruksi buka dan tutup mata, tetapi pada hitungan ke 90 pandangan mulai kabur, kemudian mata saya susah dibuka, dan kemudian blank....”

Dedi : ’Kalau waktu disuruh membayangkan AH berada bersama teman-teman AH bagaimana?”

AH : ” Saya waktu itu tidak terlalu jelas mendengar...”

Dedi : ” Kalau begitu, nanti akanlebih lama lagi dan membaca ulang sugesti dan memastikan Ah mendengan sugesti saya”

AH: ” Kalau waktu saya ditanya/ ditawari rokok, itu saya dengar, pak”

Dedi : ”Terima kasih AH, mudah-midahan AH bisa sembuh, karena tadi waktu AH ditawari rokok, AH menggelengkan kepala”

AH : ”Ya, Pak, mudah-mudahan.... terima kasih, pak”

Alhamdulillah sesi terapi sudah saya lalui, AH adalah klien saya yang pertama... dan hasilnya.... kita tunggu .........(BERSAMBUNG)
Tag : pengalaman
0 Komentar untuk "Klien Pertama : Terapi Berhenti Merokok (1)"
Back To Top