CURHAT Menebar Manfaat

Klien Kedua : Temannku Sembuh dari Fobia terhadap Kecoa dengan Hypnotherapy

Hari Sabtu tanggal 25 April 2009 sore aku menunggu kedatangan teman kerjaku IK namanya. Memang dia sudah janjian dengan aku sehari sebelumnya akan datang ke rumah untuk terapi. Dia ingin diterapi karena takut/ jijik dengan kecoa. Untuk terapi ini tidak ada persiapan khusus tentang teknik terapi apa yang akan aku lakukan. Sebenarnya aku selama ini sudah belajar beberapa teknik terapi, teknik induksi, dan anchor ke tempat ”kedamaian” dari Pak Adi W. Gunawan dalam buku beliau yang berjudul ”Hypnotherapy: The Art of Subconsciuos Restructuring”. Aku pikir tinggal mempraktekannya saja nanti.

Persiapan khusus sebenarnya adalah aku sedang belajar ”menjentikkan jari”. Memang urusan menjentikkan jari perlu saat memberi aba-aba dalam terapi. Ya, yang satu ini aku harus belajar karena aku tidak selalu bisa, kadang berhasil kadang tidak bunyi. Beberapa hari ini aku belajar. Akhirnya aku bisa tapi dengan syarat harus pakai air atau minyak kayu putih biar jariku licin sehingga bunyi jentikan jariku keras. Aku tetap bersyukur meski keberhasilanku masih pakai bahan pembantu, tapi karena saking seriusnya aku belajar, jariku jadi sakit dan perih. Jariku lecet dan saat aku akan praktekan aku malah kesakitan. Aku sempat bingung, dan terbersit dalam hatiku hal ini takut menggangu jalannya terapi karena script yang aku tulis semua pakai menjentikkan jari sebagaimana Pak Adi W. Gunawan menulis scriptnya di buku yang berjudul ”Hypnotherapy: The Art of Subconsciuos Restructuring”. Aku kepikiran untuk pakai cara ”menepuk bahu” , tapi script aku belum aku sesuaikan. Aku pikir biarlah aku akan sesuaikan langsung saat terapi nanti.Pelajaran nomor satu (1) : ”jangan terlalu khawatir dengan masalah” karena ini akan berpengaruh pada sikap dan jalannya terapi.

IK datang jam 16.25. Aku persilakan masuk dan duduk menunggu di kursi, sementara aku mempersiapkan alat perekam dan aku simpan di saku bajuku. Setelah itu aku ajak IK ke ruangan di lantai 2 dan aku mulai terapi.

Inroduksi :

Dedi : ”IK, pada dasarnya proses terapi itu adalah kembali ke masa lalu IK saat pertama kali penyebab terjadi trauma dan dicoba dinetralkan dan nanti akan mulai sembuh.”
IK : ”Oh, jadi kita nanti kembali ke masa lalu ”
Dedi : ”Ya, dan ada hal lain yaitu jika IK berhasil dihypnosis berarti karena IK sendiri yang menghypnosis, istilahnya self-hypnosis. Kemudian jika saya meminta IK untuk tidur yang dalam itu berarti kondis relaksasi yang dalam atau istirahat yang dalam.... rileks, tahu rileks?”

IK : ”Ya, tahu Pak”
Dedi: ” Saya sekarang mau tanya apakah IK masih ada ganjalan atau kekhawatiran terhadap hypnosis?”
IK: ”Tidak Pak”
Dedi : ”Oke, kalo begitu kita bisa mulai, siap?”
IK : ” Siap ”

Induksi :

Dedi : ”Sekarang saya ingin Anda menyatukan jari telunjuk dengan ibu jari kiri IK. Bisa?, satu aja yang kiri, betul begitu”
Dedi : ”Sekarang angkat dan dekatkan ke mata IK. Letakkan pada jarak 20 cm di depan mata IK. Sekarang konsentrasi dan tatap ujung jari IK. Saya akan menghitung dari satu sampai tiga. Satu.... IK merasakan jari IK lengket seperti ada lemnya. Dua..... jari IK semakin lengket.... Tiga..... lengket dengan sangat kuat.... Kedua jari IK menyatu.... tidak bisa lepas........Semakin IK berusaha melepas......, jari itu semakin lengket. Sekarang IK boleh berusaha melepas ujung jari IK, Bisa?”

IK: ” Bisa, lepas”

.......... Ganti teknik induksi ..................

Dedi : ”Oke, tidak perlu dikhawatirkan, sekarang saya akan menghitung turun mulai dari 100, setiap angka genap saya minta IK tutup mata, dan setiap hitungan angka ganjil saya minta IK membuka mata, bisa?”
IK : ” Jadi merem melek, pak?”
Dedi : ”YA, mulai....100.... tutup mata IK.... tarik napas yang dalam dan rileks..... IK mungkin menyadari bahwa pikiran IK.... dapat berpikir jauh lebih cepat dari apa yang saya katakan.... dan itu tidak jadi masalah.... 99.... buka mata IK.... tarik napas yang dalam dan rileks.... 98.... tutup mata....tarik napas yang dalam..... Bagus sekali..... niatkan dalam hati untuk masuk lebih dalam...., lebih rileks....97.... IK mungkin lupa apakah harus buka atau tutup mata......itu tidak jadi masalah.....96..... tutup mata...... bayangkan semua ketegangan IK keluar bersama hembusan napas IK..... 95..... IK merasa sulit untuk membuka mata......”.
Dedi : ’`94..... mudah untuk lupa ..... 93.... sulit untuk mengingat apakah harus buka atau tutup mata, atau apakah ganjil atau genap..... begitu IK lupa untuk ingat atau ingat untuk lupa ....mata IK akan terkunci rapat..... dan IK dapat masuk lebih dalam.... lebih rileks..... semakin masuk lebih dalam ..... 92.... mata IK sangat berat.....91..... IK hanya mendengar suara saya... dan sangat mudah merespon suara saya saat saya mengucapkan ..... 90......89.... mata IK semakin berat dan trekunci rapat sekarang.....”


(mata IK, menutup mata, dan mencoba membuka tapi tidak bisa)

Dedi: ”87, ..85.., 83 ..... lebih dalam dan lebih dalam lagi..... mudah untuk lupa.... sulit untuk mengingat..... 82.... 80.... apakah harus buka atau tutup mata....... atau apakah tertutup atau terbuka... atau apakah ganjil atau genap.... 78, 76, 74... angka- angka dapat berlalu dengan sangat cepat..... dan IK ingin masuk lebih dalam saat mata IK tertutup. ........70....68.... IK sekarang masuk ke kondisi hypnosis yang dalam...........65..63...61.... dan setiap IK lupa untuk mengingat dan mengingat untuk lupa.... IK masuk lebih dalam... merasa sangat nyaman... dan semakin nyaman....50...40..mata tertutup dan masuk lebih dalam......35, 33, ..31......”

(Badan IK mulai bergerak ke kanan, dan kemudian posisi badan IK miring dengan mata tetap tertutup)

Dan aku lanjutkan dengan
Deepening dengan menghitung turun :

Dedi : ”Saya akan menghitung turun dari 10 ke 1, untuk setiap hitungan turun IK menjadi dua kali lebih rileks dari hitungan sebelumnya, semakin turun IK semakin rileks. Setiap hitungan turun membuat IK dua kali lebih rileks dari hitungan sebelumnya ..... 10....9.... dua lebih rileks dari sebelumnya.... 8.... bagus sekali.... dua kali lebih rileks......7.... dua kali lebih rileks dari sebelumnya....6...5....4... bagus sekali dua kali lebih rileks dari sebelumnya.....3....2...dua kali lebih rileks.... dan 1.... bagus sekali IK telah tertidur dengan sangat lelap......”

(IK tetap dalam posisi miring...) Kemudian aku melakukan deepening lagi sambil memeriksa tingkat kedalaman trance dengan mengangkat tangan ke pangkuan :

Dedi : ” Saya akan mengangkat tangan kiri IK... rileks saja... IK tidak usah membantu saya..... saat saya melepas tangan kiri IK dan tangan kiri IK menyentuh paha kiri IK... saat itu IK masuk sepuluh kali lebih dalam dari kondisi sekarang.....
Saat tangan kiri IK menyentuh paha kiri IK, saat itu IK langsung masuk sepuluh kali lebih dalam dari kondisi sekarang.....
Saya akan melepas tangan kiri IK...saat tangan kiri IK menyentuh paha kiri IK, saat itu IK masuk sepuluh kali lebih dalam dari kondisi sekarang....(sambil melepas tangan kiri IK)”


(tangan IK lemas sekali)...dia sepertinya sudah dalam keadaan deep trance). Kemudian aku lanjutkan dengan
Dept Level Test dengan ideo motor response :

Dedi : ” Kalau, IK masih bisa mendengar suara saya tolong gerakan telunjuk tangan kiri IK...(sambil menyentuh telunjuk kiri IK)”

(IK merespon saya , gerakannya sangat lemah tapi aku rasakan telunjuknya kaku seperti belum masuk Deep Trance).

Aku lanjutkan dengan Deepening kembali dengan Menuruni Tangga :

Dedi : “Saya akan menghitung 1 sampai 3, dan pada hitungan ketiga IK berada di lantai dua sebuah rumah.... dan IK berada di bibir lantai dua.... menuju ke lantai satu.... Tangga tersebut memiliki 10 anak tangga..... saya ulangi....... Saya akan menghitung 1 sampai 3, dan pada hitungan ketiga IK berada di lantai dua sebuah rumah.... dan IK berada di bibir lantai dua.... menuju ke lantai satu.... Tangga tersebut memiliki 10 anak tangga..... .Mulai.... satu.... dua.... tiga.... Sekarang perhatikan... apakah IK sudah melihat tangga tersebut?.,.”
IK : ”ya..”
Dedi : “Sekarang bersiap-siaplah untuk turun menuju lantai satu. IK akan turunperlahan-lahan..... Setiap kali IK menuruni satu anak tangga.... IK menjadi semakin rileks, semakin nyaman, dan semakin mengantuk..... Sekarang saya mulai menghitung turun dari 10 ke 1.... Pada hitungan turun..... IK bergerak turun ke bawah.... semakin rileks dan semakin mengantuk......
10..... IK mulai melamgkah turun.....9.... IK semakin rileks dan mengantuk......8...... IK semakin tuurn dan semakin dalam....7... Semakin mengantuk..... semakin rileks....6.... bagus sekali..... 5..... semakin mengantuk......Semakin rileks....4.... IK semakin turun.... dan semakin rileks....3..... semakin mengantuk.....semakin rileks......2.... IK semakin turun.... semakin rileks......1..... Bagus sekali.... IK telah tidur dengan sangat lelap....”



(IK nampaknya sudah masuk Deep Trance).
Aku lanjutkan dengan Anchor ke tempat Kedamaian :

Dedi : “Saya akan menghitung dari satu sampai tiga. Saat hitungan ketiga dan saya menepuk bahu IK, saya minta IK langsungberada di suatu pemandangan alam yang sangat IK suka. Di sana IK merasa sangat tenang, damai, dan bahagia. Pemandangan ini bisa berupa pantai, sungai, danau, gunung, atau di mana saja. Bisa juga hasil imajinasi IK. Saya mulai. Satu, dua, tiga (menepuk bahu IK). IK berada di mana?”
IK : “ Pantai..”
Dedi : “Bagus, nikmati suasana pantai ini dengan semua indera IK. Lihat indahnya pemandangan, dengar suara angin atau deburan ombak, dan rasakan ketenangan di hati IK. Nikmati suasana ini sampai IK kembali mendengar suara saya”

.....................kesepakatan................

Dedi : ”IK sekarang kembali mendengar suara saya. Sebelum melanjutkan terapi ini, saya ingin membuat satu kesepakatan dengan IK. Kapan pun saya meminta IK kembali ke tempat kedamaian ini, IK akan patuh dan langsung kembali ke tempat ini. Apakah IK menerima syarat ini?. Bila IK bersedia, saya minta IK menggerakkan jari telunjut kiri atau menjawab ”ya”.
IK : ” Ya ”
Dedi : ”Terima Kasih. Berarti kita sepakat bahwa kapan pun saya meminta IK untuk kembali ke tempat kedamaian, IK pasti langsung berada di tempat kedamaian ini”.

Jembatan Perasaan dan Open Screen Imagery:

Dedi : “Saya ingin agar IK mengalami kembali perasaan takut, jijik, ngeri, atau perasaan apa saja yang muncul saat IK melihat, menyentuh, atau memegang KECOA Saya akan menghitung naik dari 1 ke 10. Saya ingin agar IK mengalami kembali perasaan atau emosi itu. Setiap hitungan naik membuat perasaan ini tumbuh semakin kuat”
Dedi : ”Satu..... dua..... tiga... sekarang perasaan itu muncul. Empat..... lima.... perasaan itu semakin kuat IK rasakan. Enam.... tujuh..... perasaan itu semakin kuat. Delapan..... semakin kuat. Sembilan.... rasanya seperti gelombang yang menyapu diri IK.... sangat kuat IK rasakan. Sepuluh..... rasakan perasaan itu sangat kuat.
Dedi : ”Saya akan menghitung dari satu sampai tiga. Pada hitungan ketiga dan setelah saya menepuk bahu IK, IK akan kembali ke masa lalu dalam hidup IK, saat pertama kali muncul perasaan seperti yang IK alami sekarang”

Dedi : ”Satu... dua.... tiga...(tepuk bahu). IK berada di luar atau di dalam rumah? Cepat beri jawaban."
IK : ” Di dalam Rumah ”
Dedi : ”Siang atau malam hari?”
IK : ” Malam ..”
Dedi : ”Anda sendiri atau dengan orang lain?”
IK ; ”dengan orang lain..”
Dedi : ”Siapa orang itu”
IK : ”Rahmat”
Dedi : ”Berapa usia IK sekarang?”
IK : ” 20 tahun”
Dedi : ”Ceritakan apa yang terjadi! ”
IK: ”waktu itu di rumah dengan rahmat lagi nonton tv di rumah nenek ada kecoa terbang ke rambut lalu masuk ke baju, sudah gitu dimatikan”
Dedi : ” Kalo anda jijik/ takut di bagian apa anda yang anda rasakan?”
IK : ”ngelihatnya jijik”
Dedi : ”Sekarang IK tetap di tempat IK saat peristiwa itu terjadi, dan coba gambar peristiwa yang IK alami jadikan warnanya hitam putih!, bisa?, sudah?”
IK : ”sudah”
Dedi : ”Sekarang, kalo ada suaranya tolong suaranya dikecilkan semakin kecil dan akhirnya hilang... sudah?”
IK : ”sudah”

Dedi : ”Sekarang, kalo ada perasaan tolong perasaannya dikecilkan semakin kecil dan akhirnya hilang... sudah?”
IK : ”sudah”
Dedi : ”Oke, terima kasih. Sekarang, coba gambar peristiwa itu dibuat mengecil.... semakin kecil...dan akhirnya hilang..... bisa?..silakan......sudah?.”
IK : ”sudah”
Dedi : ”Oke, terima kasih. Sekarang, saya akan menghitung 1 sampai 3 . Saat hitungan ketiga IK berada saat ini dan IK bayangkan IK sedang memegang bunglon,...IK Tahu bunglon?. ”

Saya tahu kalo IK berani memegang bunglon karena dia pernah memegangnya waktu di kantor

IK : ”Tahu..”
Dedi : ” Oke, Saya mulai...satu...dua ...tiga...sudah lihat bunglonya?”
IK : ” Sudah..”
Dedi: ”Apakah sudah pegang bunglonnya?”
IK : ” sudah”
Dedi : ” IK berani memegang bunglon ?.”
IK : ” berani...”
Dedi : ” Oke, sekarang IK tetap dengan perasan keberanian IK saat ini, saya akan menghitung 1 sampai 3 saat hitungan ketiga bayangkan IK sedang memegang KECOA, satu....dua ....tiga.. .bisa?.. .bernai?.. .bisa?.. .berani?...bisa?...berani?”
IK: ”Berani”
Dedi : ”Sekarang kalo berani,coba sekarang tolong julurkan tangan IK kedepan sedang memegang kecoa!”

IK menjulurkan tangannya.....

Dedi : ” Oke, terima kasih..”

Kembali ke Anchor tempat Kedamaian :

Dedi : “Saya akan menghitung dari satu sampai tiga. Saat hitungan ketiga dan saya menepuk bahu IK, saya minta IK kembali ketempat kedamaian IK.....satu...dua....tiga?”

Dedi : “Nikmati suasana pantai ini dengan semua indera IK. Lihat indahnya pemandangan, dengar suara angin atau deburan ombak, dan rasakan ketenangan di hati IK. Nikmati suasana ini sampai IK kembali mendengar suara saya......”
Dedi : ”Oke, Sekarang...demi kebahagiaan IK di masa depan, IK perlu kembali ke masa lalu yang baru IK alami tadi, Tetapi kali ini perasaan itu telah semakin ringan dan berkurang intensitasnya. Apakah IK bersedia kembali kemasa itu untuk beberapa saat saja?”
IK: ” Ya..”
Dedi : ”Oke, Saya akan menghitung 1 sampai 3 saat hitungan ketiga IK kembali kemasa lalu.... satu....dua....tiga....”
Dedi : ” Bagaimana perasaan IK, apakah IK bisa memegang kecoa yang menempel dirambut IK?...Bisa?...berani?...jijik tidak?”

IK; ” Jijik”
Dedi : ”Masih jijik....oke, sekarang saya akan menghitung 1 sampai 3 pada hitungan ketiga IK berada di tempat kedamaian IK. 1....2....3..... Oke IK berada di mana?”
IK : ”Di rumah ”

Dedi : ”IK bersama siapa?”
IK : ”Bapak”

Aku sempat bingung kok IK bilang ada di rumah bersama bapaknya, tetapi kemudian aku lanjutkan dengan Teknik Gestalt :

Dedi : ”Oke, Sekarang saya ingin munculkan bapak di samping IK, dan sekarang tolong katakan kepada Bapak apa yang diminta IK dari Bapak. Katakan kepada bapak bagaimana untuk menghapus ketakutan/ jijik terhadap kecoa!, silakan katakan!”
IK : ” Abdi sieun cucunguk, kumaha abdi ieuna pak?”


............IK ngomong pakai bahasa sunda....

Dedi : ”Sekarang, jadi Bapak, tolong jawab permintaan IK!, apa yangharus dilakukan”
Bapak/IK : ”Tewak we..... Piraku sieun....”
Dedi : “Sekarang jadi IK lagi , tolong lakukan apa yang diminta Bapak IK! ..... bisa?....sudah dilakukan?....berani?....tidak takut?”

IK melakukanya... aku lihat tangannya digerakkan seolah-olah memegang kecoa...

IK : ”sudah... berani...tidak”
Dedi : ”Bagus, sekarang tolong bilang terima kasih kepada Bapak yang telah memberitahu IK”
IK ; ”Pak, Nuhunnya tos masihan terang ka abdi....nuhun..pak!”
Dedi : ”Sekarang jadi Bapak, tolong jawab IK!”
Bapak/IK : ”Tah kitu... tong sieunan...ari jadi lalaki mah tong sieunan....”
Dedi: ”Oke, sekarang jadi IK lagi, tolong jawab bapak”
IK : ” Nuhun atuh pak... ayeuna mah moal sieun...”

Kemudian aku membangunkan IK,
Awakening :

Dedi : ” Saya sekarang akan membimbing IK untuk naik ke kesadaran normal dengan menghitung perlahan mulai 1 hingga 10.... setiap hitungan naik... kesadaran IK juga naik.... saya mulai... 1....2....kesadaran IK mulai naik ... bagus sekali .... 3 .....kesadaran IK semakin naik.... 4. bagus sekali.... IK semakin sadar dengan keadaan diri sendiri.....5.... IK semakin sadar dengan keadaan sekeliling IK....6.... gerakan ujung jari tangan IK..... 7..... IK merasakan sangat segar.... 7... gerakan ujung jari kaki IK.... 8.... IK semakin segar.... sangat sehat sangat nyaman.... 9....buka mata anda..... 10.... bangun dengan segar dalam kesehatan sempurna.”

Setelah IK bangun sambil menyeka air mata yang keluar karena mungkin tadi sempat ketakutan, aku mengajak IK untuk ngobrol tetang bagaimana perasaannya saat melalui sesi terapi. IK bilang seperti tidur tetapi tetap mendengar.
Kemudian aku tantang IK untuk mencoba memegang kecoa yang memang sudah aku persiapkan sebelumnya. Aku buka kantong plastik berisi kecoa, aku ambil kecoanya, dan aku serahkan kepada IK untuk dia pegang. Mula-mula dia ragu, tetapi akhirnya dia berani memegang kecoanya. IK bilang heran karena biasanya dekat saja sudah takut apalagi memegangnya. Alhamdulillah terapiku berjalan lancar dari awal saat aku mulai nyalakan alat perekam sampai aku matikan lagi, ternyata terapi memakan waktui 37 menit, 57 detik.Pelajaran nomor dua (2): ”Perbanyak latihan membuat sugesti yang jelas” untuk mempersingkat waktu terapi.
Terima kasih, Yaa.. Alloh ...Engkau telah membantu aku menolong orang lain memecahkan sebagian masalahny
Tag : pengalaman
2 Komentar untuk "Klien Kedua : Temannku Sembuh dari Fobia terhadap Kecoa dengan Hypnotherapy"
Back To Top